Padang Bukittinggi Trip

Ciek…Duo…Tigo……

Kampuang nan jauh di mato….

Day 1: Jakarta – Padang

Sore ini kami ber-4 (aku, suami, nyokap, dan tante Nelly), take-off ke Padang menggunakan pesawat Citilink. Setelah melewati perjalanan 1,5 jam, akhirnya kami touch down di Bandara Internasional Minangkabau. Kami tiba di Padang saat matahari mulai terbenam, sunsetnya indah loh di bandara situ.

Pengalaman pertama nih memakai jasa penerbangan Citilink (anak usaha Garuda Indonesia), komentarnya: tempat duduk lebih nyaman daripada Lion Air & AirAsia, tapi suara mesin pesawat / AC saat mau take-off dan beberapa saat setelah take-off terdengar bising dan kasar seperti mesin mobil solar. Dan yang paling gres adalah ketika pilot melakukan penurunan ketinggian yang sangat drastis saat mau landing, sehingga berasa kayak lagi main halilintar/jetcoaster gitu -___- plus….disaat sudah landing pun sang pilot melakukan pengereman mendadak karena bengong kali ya…ga nyangka landasan lurusnya udah habis dan harus berbelok ke kanan pesawatnya. Mantab yaaaa…. #gubrak

Beres ambil bagasi pesawat, kita sempet bingung mau naik taksi resmi dimana, kok di dalam bandara kosong gak ada counter taksi ya? Ternyata taksi bandara yang resmi, bus DAMRI (resmi, tapi sistemnya nge-tem), & taksi gelap pada mangkal di area luar bandara dekat pintu kedatangan (arrival gate). Langsung aja pilih taksi bandara yang kata bokap ada list harga sewanya berdasar jarak rute kita. Ternyataaa….harganya mahal2 banget, dimulai dari harga IDR 90rb. Kok lebih mahal daripada taksi Bali ya sepertinya? Dan karena rute kami adalah ke “The Sriwijaya Hotel” di JL.Veteran No.26, maka biayanya adalah IDR 102.500 #gubrak. Padahal pas tanya sopir taksinya soal bus DAMRI, ternyata rutenya melewati JL.Veteran dan biaya per orangnya  hanya IDR 18rb ajah. Kalo pergi sendiri atau berdua sih prefer naik DAMRI ya.

Sekarang bahas soal Hotel Sriwijaya. Hotelnya kayak rumah besar bertingkat tiga, homey deh. Luas kamar juga lumayan, kecil sih, tapi tidak terlalu kecil untuk berdua. Hotel ini bernuansa Islami juga, di setiap kamar tersedia sajadah dan ada petunjuk arah Kiblat. Dengan harga kamar per malam mulai dari IDR 325rb, hotel ini termasuk budget hotel yang nyaman menurut aku. Ohya, dalam setiap kamar tamu akan mendapat mineral water 600ml 2 botol/malam + bath things. Nah sekarang soal breakfast-nya, pilihan menu terbatas karena hotel kecil. Cuma ada roti, bubur kacang ijo, telur dadar gulung, kue, buah, dan gado-gado khas Padang. Untuk menu minuman ada air mineral, teh, dan kopi. Rasanya? Lumayanlah untuk makanan ala hotel versi Padang.

Oh iyaaaa… hari pertama ini setelah check-in hotel, kegiatan kami selanjutnya adalah cari makan & ke mini market terdekat. Dinner malam ini adalah pecel lele LELA jiahhhh…. jauh2 ke Padang makannya disitu juga hhehehehe…. naklum bawa ib2 dua orang, jadi agak susah diajak makan makanan lokal sembarang.

Day 2: Padang – Bukittinggi

Perjalanan dimulai dari The Sriwijaya Hotel dengan menyewa mobil Avanza sampai hari Minggu (hari kepulangan) dengan harga sewa IDR 350rb/hari. Tujuan pertama adalah tempat oleh2 Keripik Nan Saliro (keripik singkong sanjay yang terkenal di Padang), terletak di JL.Niaga. Tujuan kedua adalah tempat oleh2 Dendeng Lambok “Dendeng DD” yang berlokasi di JL.Kali Kecil No.31 (tdk jauh dari Nan Saliro), tokonya model rumahan jadoel gitu.

Next destination adalah Pantai Air Manis (Pantai Aie Manih), dimana kita dapat melihat Batu Malin Kundang. Masuk ke pantainya bayar retribusi IDR 5rb/orang, IDR 5rb/mobil, dan IDR 2rb/motor. Pulangnya mampir foto2 di Jembatan Siti Nurbaya. Tapi kami tidak lanjut ke makam Siti Nurbaya karena harus hiking lagi dan butuh waktu sekitar 3 jam untuk mencapai makamnya.

Lunch time tiba, kami mampir ke Lapau Pondok Nelayan untuk makan bersama sopirnya juga. Menu khas di Lapau adalah ikan bakar dan seafood, lokasinya di pinggir Pantai Padang. Di sepanjang pinggir Pantai Padang situ banyak berjejer restoran/lapau sejenis (mirip area Jimbaran,Bali). Untuk rasa lumayan enak dan berasa bumbunya. Harga lumayan murah menurutku karena makan ber-5 habis +/- IDR 240rb, dengan menu ikan bakar-cumi goreng tepung-udang goreng tepung-udang saos tiram-nasi putih.

Perjalanan lanjut menuju Bukittinggi. Di tengah jalan kami melewati Lembah Anai yang terkenal dengan Air Terjun-nya. Mampir sebentar foto2 dan beli souvenir khas Padang. Akhirnya, setelah 4 jam perjalanan, sampailah kami di Bukittinggi dan langsung menuju Hotel The Hills Bukittinggi untuk check-in. Sewa mobil hari ini berakhir di Hotel The Hills, berhubung sudah capek dan terlalu sore untuk jalan2 lagi. Alhasil, sore ke malamnya kami ber-4 jalan2 disekitar hotel saja berkunjung ke rumah saudara yang tidak jauh lokasinya dari hotel & cari dinner.

Cerita mengenai Hotel The Hills Bukittinggi, yang dahulu terkenal sebagai Hotel Novotel Bukittinggi. Tapi setelah 15 tahun beroperasi, Hotel Novotel kemmudian tidak meneruskan operasional hotelnya lagi. Padahal waktu sewa lahannya masih 15 tahun lagi, maka diambil alih lahan hotel ini oleh pengusaha Arifin Panigoro, dan digantilah nama hotelnya menjadi Hotel The Hills. Bangunan hotelnya tidak ada yang diubah dari hotel sebelumnya. Gaya bangunan ala Timur Tengah berlantai 4 ini terlihat unik dan khas, tapi sayang karena tidak/belum direnovasi, maka terlihatlah cat-cat tembok bagian luar yang sudah mengelupas dan memudar warnanya. Untuk kamarnya sendiri bagus, lumayan luas, dan terlihat mewah, tapi sayangnya kamar mandi agak bau pesing padahal terlihat bersih. Dan satu lagi, di kamar aku dan suami kok suka muncul beberapa coro (kecoa kecil) yang ternyata keluar dari lubang kecil di bagian tembok bawah kamar yang tidak direnovasi. Hadoh…. Untuk breakfast lumayan komplit, dimana ada pilihan menu: internasional, nasional, dan khas daerah. Mengenai rasa, not bad, tapi nothing very special. Standar menu hotel bintang 4 ajah.

Ada 2 hal yang membuat saya ilfil dengan hotel ini, yaitu salah seorang waitress menyenggol kursi di meja kami sehingga tripod yang ada di kursi tersebut terjatuh. Waitress tersebut tahu dan sadar sudah menyenggol kursi dan menjatuhkan tripod saya, tapi dia hanya menengok sekilas dan pergi berlalu dengan muka datar tanpa rasa bersalah, apalagi mengambil kembali tripod yang jatuh. Padahal saya saat kejadian itu duduk di kursi sebelahnya melihat semua kejadiannya. What the hell with her, with the attitude and service manner?! Pelayanan hotel bintang 4 macam apa itu? Bagaimana kalian memberi training karyawan?! Hal lain yang membuat saya ilfil adalah pada saat breakfast saya mengambil menu sayur capcay. Ternyata pada saat mulai makan capcay tersebut, saya melihat ada ulat kecil di capcay tersebut yang sudah mati termasak yaiks…. napsu makan langsung hilang seketika. Kualitas kebersihan kurang banget.

Day 3: Bukittinggi

Hari ini saatnya full wisata Bukittinggi. Tapi sebelumnya mampir dulu ke Taman Makam Pahlawan Bukittinggi (TMP Kusuma Bhakti) untuk ziarah ke makam kakak tertua nyokap & Tante Nelly. Setelah itu, mulai wisata ke Ngarai Sihanok dan Goa Jepang. Ternyata Ngarai Sihanok punya wisata baru, yaitu: “The Great Wall of Kota Padang” atau disebut juga “Janjang Koto Gadang” yang diresmikan oleh Menkominfo Tiffatul Sembiring pada 27 Januari 2013. Nah, pintu masuk “Janjang Koto Gadang” ini belum tahu darimana, tapi sepertinya jauh. Lanjut ke Goa Jepang kami hanya mampir di depan pintu masuknya saja karena butuh waktu tempuh +/-1jam pergi-pulang untuk menyusurinya & sebaiknya memakai jasa pemandu resmi seharga IDR 50rb/pemandu. Oh iya, disekitar Ngarai Sihanok View ini kita akan menemukan sekumpulan monyet/kera. Tapi jangan takut karena sejauh pengamatan saya di lokasi, kera2 tersebut jauh lebih jinak dibanding kera2 di Bali (Pura Uluwatu khususnya). Tidak ada satupun kera yang merampas barang2 milik pengunjung.

Next, menuju ke Benteng Fort de Kock dan Kebun Binatang Bukittinggi yang ternyata masih satu komplek dan satu pintu masuk yang dihubungkan oleh jembatan gantung. Tiket masuknya IDR 5rb/orang. Komen kami saat melihat Benteng tersebut adalah kecewa berat karena ternyata tidak sesuai imajinasi kami. Hanya menara tempat menyimpan air saja yang sudah buluk & kurang terawat. Karena disekeliling menara tersebut ada beberapa meriam, muungkin jadi dianggap seperti benteng kali ya hehehe….

Tanpa lama2 di Benteng, kami langsung menuju jembatan gantung untuk menyeberang ke Kebun Binatang (bonbin). Bonbinnya sendiri juga terlihat kurang terawat & jumlah hewannya pun tidak banyak baik kuantitasnya maupun jenisnya. Kasihan juga melihat hewan2 disitu makan rumput2 layu. Ada juga yang kesepian karena tinggal sendirian di kandang. Tapi ada yang menarik perhatian kami, yaitu ada bangunan rumah adat Padang utuh yang dijadikan sebagai museum juga di suatu sudut di area bonbin. Puas foto2 di depan rumah adat, kami balik ke mobil langsung tancap gas ke Resto Simpang Raya di dekat Jam Gadang buat lunch. Sesampainya di resto, ternyata penuh yang makan. Jadi sempat nunggu sejenak.

Oh iya lupa, sebelum wisata Bukittinggi dengan mobil dimulai, kami ber-4 jalan kaki ke Jam Gadang pagi2 sebelum breakfast di hotel. Sekitar setengah jam berfoto ria dengan Jam Gadang, berjalan sedikit menjauh kita dapat melihat Gunung Singgalang & view Kota Bukittinggi dari atas.

After lunch, kami balik ke hotel, take a break sejenak, taruh barang2 & oleh2 di hotel, and then minta dianter pak supir ke Pasar Bawah buat jalan2 dan beli souvenir. Sebenarnya letak Pasar Bawah itu berdekatan dengan Jam Gadang, yang artinya dekat hotel juga. Tapi berhubung sayang karena sewa mobilnya masih sisa beberapa jam hari ini, jadi dimanfaatkan saja hehehe…. Jalan2 di Pasar Bawah sekitar 1 jam. Aku gak bisa ikutan ke Pasar Bawah karena tepar sakit flu dan demam. Sekedar info, ada 2 pasar yang terkenal, yaitu Pasar Atas dan Pasar Bawah. Yang mencari dendeng batokok (dendeng kering garing) akan sulit menemukan di Pasar Bawah karena lebih banyak menjual souvenir kaos, sandal kulit, gantungan kunci, dll. Pasar Atas kurang tahu jualannya apa saja, tapi katanya banyak nasi kapau disana. Cuma yang perlu diperhatikan saat jalan2 di Pasar Atas & Pasar Bawah kita wajib jaga semua barang berharga yang dibawa karena banyak copet yang suka main silet tas nyopet. Yang parahnya lagi copet disitu biasanya wanita ckckck….

Setelah melepas lelah dan mandi sore, kami ber-4 bersiap cari makan malam disekitar luar hotel. Eh ternyata hujan lumayan deras, akhirnya nyokap memutuskan kami order menu dinner di kamar hotel saja. Untuk harga makanannya mulai dari IDR 20rb sampai IDR 150rb. Untuk rasa, yah…lumayan deh nilai 7 dari 10 untuk menu nasi rames & nasi rendangnya. Tapi kwetiauw gorengnya agak hambar.

Day 4: Bukittinggi – Jakarta

Huaaaa….ga terasa sudah hari ke-4 alias hari terakhir tirp to Padang-Bukittinggi. Setelah sarapan, beberes, dan jalan2 sebentar menikmati suasana hotel, kami check-out dan menuju ke Danau Singkarak. Pemandangan indah menyambut kami begitu memasuki area wisata Danau Singkarak. Danau air tawar berair jernih ini begitu memikat hati dan memukau mata. Kita dapat menyewa kapal untuk berkeliling danau, bisa juga bersepeda air, atau bermain banana boat. Tarif masuk area wisata Danau Singkarak IDR 15rb/mobil.

Puas menikmati pemandangan, kami berniat menuju Puskul Maknyus di Anai Resort & Golf yang menurut Pak Bondan Winarno wajib dicoba. Tapi pas sampai di lokasi kok ya sepi2 ajah gitu, cuma ada 1 mobil parkir, restonya kayak tidak beroperasi gitu, tidak ada pengunjung, tidak tampak pegawainya juga. Kok aneh sih? Padahal pas tanya satpam dekat situ dibilang buka restonya. Akhirnya karena meragukan, kita batalkan niat lunch disitu dan mencari tempat makan lain diluar Resort Lembah Anai.

Selesai lunch masih jam 2 siang, artinya masih lama menuju waktu take-off pk 19.25. Walhasil kami mampir ke Mal Basko di Kota Padang. Satu-satunya Mal 3 lantai termewah yang ada di Padang, lokasinya satu komplek dengan Hotel Basko. Isinya Foodmart, Matahari Deptstore, dan toko2 lainnya. Muter2 1jam disitu, baru kami meneruskan perjalanan menuju Bandara Internasional Minangkabau, memakan waktu tempuh +/- 1jam. Sekitar pk 17.00 kita check-in pesawat dan masukin bagasi, lalu pk 19.25 kami take-off menuju Jakarta dengan maskapai Citilink.

Komen tentang Kota Padang & Bukittinggi:

orang Padang itu kesadaran untuk tertib berlalu-lintas sangat kurang, kendaraan apapun seliweran seenaknya di jalan, hak pejalan kaki terlebih saat mau nyebrang jalan tidak diindahkan oleh pengendara mobil,dll. Tempat wisata di Sumatera Barat banyak, tapi kurang terawat. Jadi banyak objek wisata yang terlihat biasa saja dan kurang menarik, padahal memiliki potensi wisata besar loh. Kesan aku sebagai wisatawan adalah penasaran  pada awalnya, tapi tidak mau berkunjung (berwisata) lagi untuk kedua kali dan seterusnya. Lain halnya dengan Kota Bukittinggi, saya masih mungkin mau kembali berwisata kesana karena hawanya yang dingin dan dekat dengan beberapa objek wisata alam.

Fakta mengenai Kota Padang: suhu udara jauh lebih panas daripada Jakarta. Langit baru gelap / sunset sekitar pukul 7 malam. Toko2 sudah tutup setelah Maghrib.

Fakta mengenai Kota Bukittinggi: suhu udara jauh lebih dingin daripada Kota Lembang, Bandung. Langit baru gelap / sunset sekitar pukul 7 malam. Toko2 sudah tutup setelah Maghrib.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: