Scattered Clouds, 33°C

Demokrasi Politik dan Harga dari Sebuah Kejujuran (Pilkada DKI Jakarta 2017).

Pilkada DKI Jakarta 2017 baru saja selesai dilaksanakan pada tanggal 19 April kemarin. Hasil dari perhitungan cepat pun (quick count) sudah didapat. Lalu bagaimana perasaan warga Jakarta dengan hasil akhirnya? Kalau Saya, sedih? Pasti! Marah? Sangat! Kecewa? Apalagi. Paslon yang Saya dukung (Ahok-Djarot / BaDja) kalah suara jauh dalam Pilkada kali ini.

Dibalik kesedihan dan kekecewaan itu, Saya tetap bersyukur kepada Tuhan bahwa semua proses Pilkada ini dapat berlangsung dengan aman, walau tidak dipungkiri sudah banyak sekali fitnah, gosip, ancaman, intimidasi, dan berita hoax yang berseliweran dengan bebas dan liarnya selama masa kampanye 7 bulan kemarin. Saya bersyukur bahwa kami para pendukung BaDja masih memiliki akal sehat dan kesabaran hati tingkat dewa dari hal-hal negatif tersebut yang terbukti lolos ujian nasionalnya Tuhan. Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk menggunakan sebaik-baiknya hak politik saya pada Pilkada kali ini. Saya juga bersyukur dapat menikmati kerja keras dan kerja nyata dari BaDja selama periode 2015-2017, dimana beliau berdua mampu merombak semua kebiasaan dan citra lama dalam tubuh Pemda yang buruk dan mengubahnya secara total kearah yang jauh lebih baik.

Masih lekat dalam ingatan Saya disaat awal-awal Pak Jokowi dan Pak Ahok menjabat sebagai DKI 1&2 semua birkorasi di Pemda dengan perlahan namun pasti dirombak besar-besaran. Terlebih mengenai kinerja aparat Pemda yang sejak lama dicap sebagai “keparat” oleh masyarakat karena perilaku (attitude) yang malas-malasan, santai, makan gaji buta, koruptif, melakukan pungli dimana-mana, serta kolusi dan nepotisme dalam banyak hal. Gelombang protes besar-besaran pun terjadi. Tidak heran memang karena orang-orang Pemda sudah terbiasa dengan perilaku seperti itu. Sulit? Pastinya, tapi dengan pendekatan ala Pak Jokowi yang santun perlahan semua masalah mulai teratasi.

Setelah Pak Jokowi terpilih sebagai Presiden RI ke-7, otomatis status Pak Ahok naik menjadi DKI 1. Nah….gelombang protes mulai dihembuskan kembali oleh para mafia politik dan koruptor. Kali ini lebih parahnya sampai menyinggung masalah SARA yang notabene tidak dapat dikaitkan dengan kegiatan berpolitik, dimana negara Indonesia dibangun berlandaskan asas BHINEKA TUNGGAL IKA yang artinya walau berbeda-beda tapi tetap satu tujuan. Lalu bagaimana Pak Ahok menanggapinya? Dengan gaya cueknya Pak Ahok tidak peduli dan tidak takut terhadap semua fitnah dan caci maki tersebut. Bak memakai kacamata kuda, Pak Ahok dengan gaya lugasnya tetap fokus meneruskan membangun image baru Pemda DKI yang tertib, disiplin, jujur, bersih, dan membantu rakyat. Hasilnya pun terbukti dengan perombakan besar-besaran PNS di Pemda. Bagi yang tidak mau mengikuti aturan dan tidak disiplin langsung ditindak terkena sanksi.

Bersama dengan Pak Djarot, Pak Ahok mulai menata ibukota Indonesia ini sebagai kota modern yang siap bersaing dengan kota-kota besar di dunia. Beliau juga berupaya keras menangani masalah-masalah mainstream yang selalu terjadi di Jakarta, seperti kemacetan dan banjir. Hal itu dibuktikan oleh Beliau berdua dalam tahun pertama menjabat, beberapa jembatan layang mulai dibangun untuk mengurai kemacetan. Sementara itu, masalah banjir juga sudah mulai dirasakan efek baiknya bagi warga Jakarta, terbukti dengan perbaikan gorong-gorong, pembersihan got dan sungai dari sampah, serta penataan kembali Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dapat mencegah meluasnya aliran banjir di Jakarta.

Semua kerja keras tanpa kompromi yang Beliau berdua lakukan semata hanya demi kenyamanan dan kemajuan rakyat Jakarta. Pak Ahok dan Pak Djarot selalu bersemangat menjadi “pelayan masyarakat” sejati. Tidak pernah mengeluh, tidak merasa lelah, tidak memperhitungkan untung rugi bagi pribadi, dan juga rela mengorbankan quality time bersama keluarganya. Beliau berdua hanya fokus kerja, kerja, dan kerja untuk rakyat.

Memang Saya akui gaya kepemimpinan Pak Ahok bertolak belakang dengan Pak Jokowi yang kalem. Namun justru disitulah uniknya Pak Ahok. Dengan gayanya yang lugas, berani ceplas-ceplos, dan apa adanya dalam bertutur Beliau sudah menohok banyak haters-nya dan calon koruptor yang mau coba-coba “bermain api”. Beliau tidak segan-segan mengusut tuntas semua kecurigaan adanya korupsi di tubuh Pemda. Bahkan menurut hemat Saya, warga Jakarta memang perlu mendapatkan pemimpin seperti ini karena sudah terlalu banyak perilaku basa basi, mulut manis, dan bermuka dua yang tidak bermutu didalam birokrasi Jakarta. Kerja keras dan kerja cerdas yang diikuti dengan ketulusan hati, keikhlasan sebagai “babu” (pelayan) dari satu ibukota, dan menjunjung tinggi nilai kejujuran inilah yang membuat banyak warga Jakarta mulai mengagumi sosok Basuki Tjahja Purnama (Ahok).

Kehadiran Pak Djarot sebagai wakil gubernur membuat duet maut ini saling melengkapi. Gaya Pak Ahok yang lugas, tegas, dan ceplas ceplos bersanding dengan Pak Djarot dengan gaya priyayi yang sabar dan santun menjadi penyeimbang yang tepat. Beliau berdua juga ternyata memiliki visi dan misi yang sejalan demi kemajuan kota Jakarta.

Transparansi yang dijalankan dalam segala hal di semua bidang pemerintahan dan birokrasi membuat semua warga Jakarta, bahkan rakyat dunia sekalipun dapat melihatnya. Rapat dan kunjungan kerja yang diunggah ke media sosial resmi milik Pemda menjadi terobosan baru. Begitu juga dengan membuka pintu Balai Kota selebar-lebarnya bagi warga Jakarta yang ingin berkeluh kesah juga menjadi ciri khas tersendiri dari gaya kepemimpinan Pak Ahok yang ingin merakyat, menyatu dan sepenanggungan dengan warganya. Bagaikan seorang Ayah yang ingin menjaga, merawat, dan melindungi keluarganya sendiri, Pak Ahok dan Pak Djarot berhasil menaikkan derajat Kota Jakarta menjadi lebih baik lagi dimata dunia. Jakarta yang dulu tidak banyak dikenal orang, sekarang mulai dikepoin warga dunia.

Tapi sayangnya, semua kebaikan dan keberhasilan Beliau berdua mengubah image wajah Jakarta menjadi lebih positif tidak didukung oleh semua pihak. Ada segelintir “tikus-tikus” politik licik yang merasa punya kekuasaan tinggi berambisi untuk menghancurkan kredibilitas Kota Jakarta dan Negara Indonesia hanya demi pemuasan nafsu pribadi akan takhta dan harta duniawi semata. Mafia politik ini dengan sangat kejam dan licik mengatur strategi menjatuhkan pemimpin-pemimpin Indonesia saat ini yang kerjanya bersih, dan tujuan utamanya adalah melengserkan Presiden Jokowi. Sayangnya, Pak Ahok adalah orang paling sial di negeri ini yang menjadi korban mafia politik tersebut. Beliau dianggap sasaran paling empuk dan mudah dikonfrontasi kepada publik, terutama mengenai masalah SARA. Kita semua tau Pak Ahok keturunan Tionghoa, agama Kristen pula, ngomong ceplas-ceplos apa adanya, dan jujur. Paket komplit bukan? Yes…itulah yang akhirnya dijadikan senjata oleh mafia politik untuk memporak-porandakan tatanan baru Jakarta, dan Indonesia secara umum.

Mafia politik tersebut ingin menghancurkan semua image kerukunan beragama, pemerintahan yang adil dan merata, penegakkan keadilan tanpa keberpihakan, serta kemajuan Demokrasi Pancasila yang sudah baik. Mereka tidak peduli terhadap kesejahteraan rakyat kecil yang mulai membaik. Mereka bahkan tidak peduli kalau bangsa ini akan kembali mengalami kemunduran drastis kembali ke jaman jahiliyah asalkan pundi-pundi dollar pribadi mereka aman dan terjamin sampai 10 turunan. Ketamakan dan sifat hedonisme mampu membeli hidup orang-orang kotor ini.

Maka telah kita lihat dan rasakan sendiri kan berbagai intrik dan manuver politk kotor yang mereka jalankan. Terlebih ketika moment Pilkada DKI Jakarta dimulai. Bagaikan peribahasa “Gajah di pelupuk mata tak tampak, tapi semut di seberang lautan tampak” itulah yang terjadi dengan Pak Ahok. Begitu Beliau sedikit saja salah berucap langsung dibuat viral dan dibesar-besarkan menjadi masalah yang dianggap sangat fatal dan krusial. Namun tidak sampai disitu saja, “tikus-tikus kotor” ini tidak puas dengan memfitnah Pak Ahok, tetapi berusaha mati-matian menjatuhkan Pak Ahok dengan sangat kasar dan tidak bermoral. Dengan berbalut fanatisme sempit agama mayoritas di Indonesia, “tikus-tikus kotor” yang ditolak Tuhan ini pun bergerilya membantai Pak Ahok. Serangan dari yang paling halus sampai yang paling kasar pun sudah dirasakan oleh Pak Ahok, tapi Beliau sangat kuat dan tegar menghadapi semuanya.

Namun, janganlah panggil Beliau Ahok kalau Beliau tidak mampu menghadapi dan melawan semua ketidak-adilan itu. Beliau berusaha sekuat tenaga dengan dibantu semua orang cerdas yang masih memiliki hati nurani dan pikiran yang jernih untuk meng-counter attack semua tuduhan dan fitnah tersebut. Bahkan fitnah itupun masih berlangsung hingga H-1 pemilu putaran 2 dilaksanakan. Mungkin Saya dan sebagian warga Jakarta lain hanya dapat berkontribusi kecil membantu Pak Ahok dengan tetap mendoakan, berpikir positif, dan memilih BaDja untuk 5 tahun kedepan. Saya tetap merasa sangat hormat dan bangga dengan perjuangan BaDja, khususnya Pak Ahok secara pribadi yang tetap bertahan dengan prinsipnya dan tegak berdiri menghadapi gempuran hebat cobaan dari berbagai penjuru.

Pada akhirnya, manusia hanya bisa berencana dan berharap, tapi Tuhan jugalah yang memutuskan semuanya. Kami semua yang mendukung BaDja mungkin sangat bingung dan sakit hati kenapa semua ini harus terjadi??? Kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi? Mungkin Tuhan kasihan melihat Pak Ahok sudah terlalu lelah dengan semua ini. Ya…mungkin saja karena saat Pak Ahok mulai menjalani persidangannya (yang dipaksakan) terlihat jelas di wajahnya kelelahan hati dan pikiran yang teramat sangat bercampur dengan kesedihan dan kekecewaan. Mungkin Pak Ahok merasa kecewa berat bahwa kerja kerasnya selama ini dengan gampang dilupakan orang hanya karena dianggap salah bertutur. Mungkin Beliau kecewa karena banyak orang yang “cuci tangan” terhadap kasus ini dan cari aman.

Ya…manusia memang sangat mudah sekali mencari-cari kesalahan orang lain dan melupakan semua kebaikan yang sudah diperbuat sebelumnya. Itulah sifat manusia kebanyakan. Tapi yang lebih parah lagi adalah situasi dimana sejumlah besar manusia yang berasal dari agama mayoritas di Indonesia (kaum small-minded) dengan mudahnya termakan hasutan dan provokasi negatif berkedok agama dari mafia politik. Hal inilah yang menjadi trend saat ini di Indonesia, khususnya Jakarta. Bagaikan virus yang mewabah, seakan latah dan terlihat suci sekali apabila mereka bisa menjadi bagian dari kaum small-minded ini. Sampai-sampai kaum small-minded ini rela dibodohi dan ditipu oleh mafia politik. Bagaimana tidak, lihat saja beberapa aksi fanatisme agama yang katanya “aksi damai” dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan kaum small-minded dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka dijanjikan akan dibiayai seluruh akomodasinya menuju dan selama di Jakarta, tapi dasar kaum small-minded yang berasa dapat rejeki nomplok bisa jalan-jalan ke ibukota Jakarta gratis diboyonglah satu keluarga besarnya untuk ikut “aksi damai” itu. Memang benar keberangkatan mereka dikoordinir dengan baik oleh panitia aksi, tapi ketika tiba waktunya mereka pulang kembali ke kota asalnya, apa yang terjadi? Hampir semua kaum small-minded dari luar kota ngluntang nglantung gak jelas di Jakarta karena bus-bus yang mengantar mereka tadi sudah menghilang entah kemana. Lalu kalau sudah begitu, siapa yang harus bertanggungjawab?

Ujung-ujungnya adalah Pak Ahok dan Pak Djarot juga yang harus berbaik hati mengakomodir kepulangan mereka semua. TNI dan Polri yang turut dihujat oleh mereka juga akhirnya harus ikut kerepotan mengawal kepulangan mereka. Namun rupanya pengerahan massa tersebut berulang lagi beberapa kali karena namanya juga kaum small-minded, yang penting bisa jalan-jalan gratis, dapat nasi kotak, dan uang saku. Mereka terlalu polos atau mungkin terhipnotis dengan janji-janji surga ala mafia politik. Miris sekali Saya melihat hal-hal seperti itu masih terjadi lagi untuk kesekian kalinya di Indonesia, dimana Pemerintahnya sedang berusaha mewujudkan rakyat dan negara yang lebih berkualitas, tapi malah segelintir rakyatnya masih gampang dibodohi dan di-adudomba.

Harap maklumlah ya kalau kaum small-minded ini hanya berisi orang-orang miskin yang tidak memiliki pendidikan tinggi. Tapi kenyataannya yang kita semua tau, ternyata kaum small-minded ini juga banyak berisi orang-orang terpelajar, bahkan ada juga beberapa yang bergelar Master dan Doktor. Wow…surprising me anyway. Mungkin mereka terlalu pintar dan semasa kuliah selalu mendapat nilai summa cumlaude ya… Sebab ada teori yang berkata: “Semakin pintar seseorang, maka semakin merasa paling benar dan paling pintarlah dia.”

Yah…inilah dinamika berdemokrasi yang terjadi di Indonesia, khususnya DKI Jakarta saat ini. Kemerosotan moral, lunturnya sikap toleransi beragama, dan pudarnya rasa kebhinnekaan berbangsa dan bernegara sudah merusak beberapa tingkat generasi Indonesia saat ini. Semoga kerusakan ini tidak akut dan bersifat permanen, sehingga Indoneaia bisa bangkit lagi memperbaiki diri.

Penghormatan Saya yang tertinggi dan rasa bangga serta kagum Saya kepada duo BaDja, khususnya Pak Ahok yang telah menunjukkan bagaimana seharusnya melayani sesama tanpa pamrih dalam arti sesungguhnya. Terima kasih Pak Ahok atas pelajaran hidupnya, bagaimana berpolitik yang baik dan benar, pelajaran kepemimpinan yang baik dan benar, serta pelajaran keimanan sejatinya. Terima kasih karena Pak Ahok sudah memberikan suri tauladan kepada Saya dan generasi muda lainnya. Pak Ahok memang kalah di Pilkada kali kedua, tapi Beliau tetap pemenang di hati kita semua pendukungnya. Namamu akan menjadi salah satu sejarah hidup (pahlawan) pesta demokrasi Indonesia.

Terima kasih juga atas semua usaha dan kerja keras Pak Ahok yang tidak mengenal lelah untuk membangun Jakarta menjadi jauh lebih baik lagi. Terima kasih sudah menetapkan standar kualitas Pemerintahan Daerah yang tinggi bagi Jakarta. Terima kasih sudah mau bersusah payah memikirkan solusi untuk segala macam keluh kesah warga Jakarta, walaupun masih ada saja komplain-komplain warga yang hanya bisa protes tanpa memberi saran/solusi bermanfaat. Terima kasih atas pembangunan RPTRA di berbagai sudut Kota Jakarta agar anak-anak dapat bermain kembali di ruang terbuka dengan aman dan nyaman. Terima kasih karena telah mewujudnyatakan hadirnya pembangunan MRT dan LRT dengan standar internasional. Semoga pembangunannya tidak mangkrak di era gubernur baru nanti.

Terima kasih juga karena berkat kepemimpinan duo BaDja, birokrasi di DKI Jakarta sangat jauh lebih baik, lebih cepat, dan lebih manusiawi. Terima kasih atas kesabaran, ketulusan, keikhlasan, dan cinta yang telah duo BaDja berikan kepada seluruh warga Jakarta melalui program KJP, KJS, dan penggratisan mengurus sertifikat kepemilikan tanah. Terima kasih sudah mau membangun masjid di Balaikota dan Masjid Agung Jakarta di Cengkareng. Terima kasih sudah mengangkat derajat pegawai harian lepas Pemda dan menjadikan mereka bangga dengan pekerjaannya sebagai Pasukan Oranye serta Pasukan warni warni lainnya. Terima kasih juga sudah menutup tempat-tempat maksiat di Jakarta, terutama Kalijodo dan mengubahnya menjadi RTH berkualitas. Sebenarnya masih tersisa satu tempat maksiat kelas kakap yang belum ditutup, tapi biarkanlah itu menjadi tugas dan tanggung jawab penerus kalian Pak karena mereka sudah berjanji dengan lantangnya mau menutup tempat tersebut.

Terima kasih juga Saya haturkan kepada seluruh penyelenggara pemilu, baik tingkat nasional maupun tingkat daerah, khususnya KPUD DKI. Saya banyak belajar dari kalian semua. Semua pemberitaan mengenai kerja nyata yang kalian lakukan dan hasilkan di lapangan bak sekolah politik gratis bagi saya, dimana ada banyak trik dan cara melobi yang dapat dilakukan dalam dunia perpolitikan. Terima kasih juga kepada mafia politik dan kaum small-minded karena dari kalianlah Saya banyak belajar bahwa negara Indonesia yang menganut asas Demokrasi Pancasila ternyata belum siap diajak menjadi bangsa yang selangkah lebih maju ke depan karena masih terlalu banyak warganya yang belum siap mental menghadapi era globalisasi. Politik atas nama suatu agama dan atau suku masih menghantui pola pikir sebagian besar masyarakat Indonesia, antara otak dan hati masih banyak yang belum sinkron atau tertukar sepertinya. Begitu juga tingkat kesadaran masyarakat untuk cerdas menyerap serbuan informasi yang datang juga masih sangat minim.

Hal yang terpenting adalah terima kasih kepada Tuhan karena dengan adanya semua kejadian ini, secara perlahan namun pasti Tuhan sudah membuka lebar-lebar mata hati dan pikiran Saya serta sebagian dari pendukung BaDja bahwa kisah sengsara Tuhan di Bukit Golgota benar-benar nyata adanya dalam kehidupan ini, dengan pemeran utamanya adalah Pak Ahok. Semoga dengan semua cobaan yang datang bertubi-tubi ke Pak Ahok yang hampir menyerupai kisah sengsara-Mu dapat menaikkan derajat Pak Ahok dan keluarganya lebih tinggi lagi dimata-Mu. Semoga semakin banyak hal-hal positif yang datang menghampiri duo BaDja beserta keluarganya. Semoga juga kita semua sebagai pendukung BaDja selalu senantiasa dapat bertekun dalam iman. Jangan mudah terpancing emosi oleh pihak lawan yang jelas-jelas menginginkan kita jatuh dalam kuasa kegelapan juga. Jangan menjadi lemah karena kekalahan ini. Justru kita harus bangun dari tidur, bangkit, dan melawan! Melawan dengan cara yang elegan versi Tuhan pastinya. Karena semua yang ada di bumi berada dalam kuasa Tuhan. Dia yang merancang dan mengatur semuanya. Kita hanya tinggal menuruti kemauan-Nya saja.

Sebagai penutup, ingin rasanya saya mempersembahkan beberapa lagu sebagai bentuk penghormatan, penghargaan, dan dukungan bagi duo BaDja, khususnya Pak Ahok sebagai berikut:
1) Thank You (Dido)
2) One Voice (Billy Gilman)
3) We will Rock You (Queen)
4) The Show Must Go On (Queen)
5) We are The Champion (Queen)
6) You’ll Never Walk Alone
7) God will Make A Way (Don Moen)

God bless Us!

Powered by Journey Diary.


REVIEW FILM

BEAUTY AND THE BEAST (2017)
PG | 130 min | Fantasy, Romantic, Family, Musical/Performing Arts

Cast:
Luke Evans, Josh Gad, Kevin Kline, Ian McKellen, Ewan McGregor, Dan Stevens, Emma Thompson, Stanley Tucci, Emma Watson
Director: Bill Condon
Featured song: Beauty and the Beast
Music composed by: Alan Menken
Costume design: Jacqueline Durran

Synopsis:
Belle (Emma Watson), a bright, beautiful and independent young woman, is taken prisoner by a beast (Dan Stevens) in its castle. Despite her fears, she befriends the castle’s enchanted staff and learns to look beyond the beast’s hideous exterior, allowing her to recognize the kind heart and soul of the true prince that hides on the inside.

My Review:
Kalau kalian pecinta Disney, terutama fans fanatik princess-princess Disney, kalian harus kudu wajib tonton film ini. Konsep ceritanya masih sama dengan cerita Beauty and The Beast versi kartun buatan Disney tapiii…. yang ini lebih detail. Ceritanya masih mengenai seorang Pangeran tampan yang dikutuk menjadi Beast, lalu secara kebetulan bertemu seorang wanita cantik bernama Belle. Kemudian mereka berdua saling jatuh cinta dan kutukan Beast pun lenyap. Walaupun sempat mendapat cobaan, namun akhirnya cinta mereka berdua dipersatukan juga.

Menurut saya film ini sangat memperhatikan detail. Disini diceritakan dari awal mula kehidupan Pangeran hingga bisa sampai terkena kutukan. Walaupun hanya sekilas, tapi dapat detailnya. Dibagian tengah cerita juga ada sedikit perbedaan setting cerita antara kartun dan versi movie ini, dimana pada versi movie diceritakan lebih mendetail mengenai pertarungan antara rakyat desa melawan “barang-barang antik” milik Pangeran yang tak lain adalah para pelayan setia istana yang ikut terkena kutukan juga. Oh iya satu hal lagi yang unik adalah scene tersebut memunculkan tokoh The Three Musketeers versi jenaka, dimana diawal-awal kemunculannya mereka terlihat sangar dan garang, tetapi setelah dikalahkan oleh “lemari pakaian” (soprano istana) dengan cara di-makeover, maka berubahlah The Three Musketeers tersebut menjadi lemah gemulai seperti perempuan.

Selain itu, cerita lebih detail juga terlihat dengan adanya kemunculan Ibu Peri menjelang akhir cerita yang pada akhirnya datang kembali ke istana tersebut untuk membatalkan semua kutukannya terhadap Pangeran dan seluruh pelayannya dan menghidupkan mereka kembali. Scene ini sangat menarik bagi saya karena belum pernah diceritakan sebelumnya. Sook Ibu Peri baru dimunculkan pada versi movie ini. Satu hal lagi yang menarik perhatian saya adalah scene disaat Beast berkelahi melawan Gaston. Pada versi kartun Gaston melukai dan membunuh Beast dengan menusuknya menggunakan pisau. Akan tetapi, pada versi movie berbeda karena Gaston membunuh Beast dengan cara menembaknya.

Over all sebagai film bergenre drama musical, Disney sukses menyuguhkan cerita yang menarik sekaligus seru untuk diikuti. Dengan tambahan animasi dibeberapa bagian, film ini terasa semakin semarak dengan adanya beberapa scene yang membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal. Sang sutradara sukses memainkan emosi penonton. Didukung juga oleh visualisasi, kostum dan pembawaan karakter yang kuat dari setiap tokohnya, serta dukungan musik yang pas membuat film ini sempurna menurut Saya.

Saya memfavoritkan sekali kostum yang dikenakan Belle dan Beast saat berdansa. Kalau untuk musik, favorit saya adalah “Be Our Guest” dimana Belle dijamu makan oleh “barang-barang antik” yang hidup; lagu “Evermore” dari Josh Groban dibagian penutup, dan tentunya soundtrack film ini sendiri “Beauty and The Beast”.

Untuk film Beauty and The Beast saya nilai: 5☆

NOTE:
usahakan nonton dari awal film dimulai agar tidak tertinggal scene yang menceritakan asal mula Pangeran dikutuk. Jangan beranjak dari kursi Anda sampai film benar-benar selesai karena dibagian akhir film Anda dapat mendengar lantunan lagu indah dari Josh Groban.😉

Powered by Journey.


REVIEW FILM

Sing (2016)
PG | 108 min | Animation, Comedy, Family

My Review:
Cerita dimulai dari mimpi seekor koala muda bernama Buster Moon yang berambisi ingin meraih kesuksesan besar dari dunia musik. Awal mulanya Buster Moon tertarik dengan panggung hiburan saat diajak ayahnya menonton pertunjukan musikal dari salah satu soprano ternama (Nana) saat ia masih kanak-kanak. Beranjak remaja, Buster Moon semakin tertarik untuk berbisnis musik pertunjukan lewat gedung pertunjukan (concert hall) yang dibeli oleh ayahnya. Concert hall tersebut dibeli oleh sang ayah dengan tujuan untuk mewujudkan impian Buster Moon memiliki bisnis dalam bidang musik. Tetapi sungguh malang nasib Buster Moon, concert hall miliknya semakin lama semakin sepi pertunjukan karena tidak adanya regenerasi musisi-musisi berbakat di kotanya, dan Buster Moon pun terancam harus merelakan aset satu-satunya yang paling berharga warisan sang ayah untuk disita oleh pihak bank. Apalagi setelah soprano Nana yang dulu menjadi idola Buster kecil sudah pensiun sebagai penyanyi.

Namun Buster tidak mau langsung menyerah begitu saja. Dia berencana mengadakan kompetisi menyanyi di kotanya dengan iming-iming hadiah $1.000. Dia pikir dia akan berhasil dengan ide gilanya itu, walaupun hadiah $1.000 yang dijanjikannya hanya berupa barang-barang (yang dianggap) berharga pribadinya. Lalu tanpa disengaja, sekretaris pribadi setianya yang ceroboh salah mengetik nominal hadiah pada poster pengumuman kompetisi tersebut menjadi $100.000. Kemudian poster tersebut sudah terlanjur diperbanyak dan secara tidak sengaja tersebar dengan sendirinya ke seluruh penjuru kota. Buster pun baru mengetahui kesalahan itu saat poster sudah tersebar kemana-mana. Alhasil Buster pun berusaha melobi teman-teman untuk mencari pinjaman dana, disamping tetap menghindari kejaran orang bank.

Pada hari audisi, Buster dan sekretaris setianya bersiap mengaudisi para peserta kompetisi menyanyi. Begitu pintu teaternya dibuka, betapa terkejutnya Buster karena dia tidak menyagka audisi hari itu dihadiri oleh ratusan orang, yang mana hampir setengah penduduk kota. Selama sehari penuh mereka berdua mengaudisi calon-calon bintang tersebut. Kemudian terpilihlah enam finalis yang akan dilatih secara khusus oleh Buster Moon untuk dibuatkan konsernya. Para finalis ini diberikan fasilitas ruang berlatih disekitar area concert hall miliknya. Buster sudah merenovasi besar-besaran concert hall sebelumnya.

Masalah pun mulai muncul satu per satu. Dari mulai masalah kecil antar finalis yang belum kompak berlatih, hambatan berlatih karena ada masalah keluarga, sampai masalah besar yang dihadapi Buster karena ia didatangi oleh debt collector yang memburu salah satu finalis bernama Mike (tikus) karena masalah hutang yang langsung bertindak anarkis dan secara tidak sengaja menghancurkan setting panggung baru yang dirancang untuk konser para finalis. Akhirnya Buster menjadi depresi dan jatuh ke titik terendah dalam hidupnya. Disinilah moral dari cerita film ini mulai terlihat. Diceritakan bagaimana Buster yang dalam keadaan down dibangkitkan lagi semangatnya oleh para finalis dan sahabatnya. Para finalis kompetisi sudah mulai merasakan rasa persaudaraan dan kekeluargaan terjalin diantara mereka semua, terutama dengan Buster yang telah membangun rasa percaya diri tiap finalis bahwa masing-masing dari mereka itu berharga. Begitu juga dengan sahabat Buster yang adalah cucu dari Nana, soprano idolanya Buster, yang tadinya tidak peduli dengan kondisi Buster akhirnya berbalik menjadi penyelamatnya disaat krisis.

Akhirnya Buster menemukan kembali semangat juangnya dan tidak mau menyerah dengan keadaan. Ia berusaha bangkit dan mencari bantuan dana dari soprano idolanya itu. Walaupun Nana terkenal sombong, pelit, dan meremehkan orang, tapi dengan usaha kerasnya akhirnya Buster mendapatkan bantuan dana dari Nana. Bangkitnya Buster dari keterpurukan juga karena melihat semangat salah satu finalisnya, yaitu Meena (gajah) yang awalnya pada saat audisi masih sangat malu untuk menyanyi didepan orang lain, tetapi dengan semangatnya untuk mewujudkan impiannya menjadi penyanyi terkenal dia berusaha melawan ketakutan dalam dirinya itu. Tidak mudah dan butuh proses, tapi semuanya dapat membuahkan hasil yang manis apabila dilakukan dengan serius dan bersungguh-sungguh.

Film ini menjadi salah satu favorit saya karena pertama film ini ber genre drama musikal. Kedua, film ini merupakan film kartun. Gabungan antara kartun dan drama musikal saja sudah menjadi favorit bagi saya, ditambah lagi film ini mempunyai banyak pesan moral yang sesuai dengan realita kehidupan yang dihadapi manusia saat ini. Pesan moral yang paling saya ingat adalah mengenai usaha keras Meena (gajah) untuk meyakinkan dan membuktikan bahwa dirinya berhak dan pantas menjadi penyanyi terkenal. Walaupun sempat merasa rendah diri, tapi dengan dukungan dan motivasi dari keluarga dan teman-temannya serta rajin berlatih dan pantang menyerah akhirnya Meena berhasil membuktikannya.

Saya juga ngefans dengan pasangan duet Rosita dan Gunter (babi), terutama mengenai cerita kehidupan Rosita yang kesehariannya disibukkan dengan mengurus dua puluh lima anaknya. Rosita sempat merasa dilema antara terus lanjut dengan perjuangannya sebagai finalis di kompetisi menyanyi atau menyerah terhadap mimpinya karena keadaan yang hanya disibukkan dengan mengurus anak-anaknya saja. Tapi ternyata Rosita tidak mau menyerah begitu saja dengan keadaan. Dia menciptakan kesempatan untuk meraih mimpinya sendiri, dimana dengan semangat membaranya itu dia akhirnya mendapatkan ide kreatif untuk mengurus anak-anaknya secara otomatis tanpa mengganggu kegiatan latihan menyanyinya. Disamping itu, Rosita dan Gunter juga menghadapi masalah dalam menari untuk konser mereka. Namun sekali lagi Rosita dan Gunter mampu membuktikan bahwa dengan kegigihannya mereka berdua mampu memberikan penampilan terbaiknya pada saat konser.

Ada juga karakter Jhony (orangutan) yang merasakan kerasnya hidup di jalanan, yang sehari-harinya selalu diikutsertakan oleh sang ayah untuk merampok. Jhony berhasil mengubah jalan hidupnya dengan mengikuti kata hatinya untuk menjadi orang yang lebih baik dan mewujudkan mimpinya menjadi musisi. Last but not least yang menjadi favorit saya adalah Buster Moon (koala) si empunya concert hall yang meski dalam keadaan terpuruk tetap gigih berjuang demi meraih cita-cita dan mimpinya menjadi “raja” di dunia pertunjukan.

Alur cerita film SING! ini mudah diikuti dan tidak membosankan karena banyak adegan menyanyi, dan lagu-lagu yang dinyanyikan pun semuanya adalah lagu yang sudah terkenal luas. Musikalitas pendukung film inipun bagus karena sesuai dengan mood yang ingin dibangun.

Penilaian saya untuk film ini: 5☆ (perfect)

Powered by Journey.



Few Clouds, 28°C

Jalan H. Samanhudi No.55

Menikmati malam Tahun Baru Imlek (Chinese New Year) sambil menambah wawasan seputar tradisi Imlek atau Sincia.

CHEONGSAM
Hampir seluruh orang Chinese pasti mengetahui apa itu cheongsam. Dikenal sebagai pakaian tradisional perempuan Tiongkok, biasanya cheongsam memiliki pilihan motif seperti bunga peony, bunga lotus, naga, dan ikan yang sarat akan makna keberuntungan dan kesejahteraan.
Kini, cheongsam kian populer di dunia karena bentuknya yang feminin, serta dapat dikenakan saat resmi dan santai.

CHANGSAN
Selain cheongsam, ada juga pasangannya nih yang tidak banyak orang ketahui. Namanya changsan, memiliki arti yang sama dengan cheongsam, yaitu baju panjang. Changsan adalah pakaian tradisional laki-laki Tiongkok yang biasanya digunakan untuk jamuan formal dan populer sebelum jas model Barat ditemukan.

Powered by Journey.



Few Clouds, 28°C

Jalan H. Samanhudi No.55

Menikmati malam Tahun Baru Imlek (Chinese New Year) sambil menambah wawasan seputar tradisi Imlek atau Sincia.

CHEONGSAM
Hampir seluruh orang Chinese pasti mengetahui apa itu cheongsam. Dikenal sebagai pakaian tradisional perempuan Tiongkok, biasanya cheongsam memiliki pilihan motif seperti bunga peony, bunga lotus, naga, dan ikan yang sarat akan makna keberuntungan dan kesejahteraan.
Kini, cheongsam kian populer di dunia karena bentuknya yang feminin, serta dapat dikenakan saat resmi dan santai.

CHANGSAN
Selain cheongsam, ada juga pasangannya nih yang tidak banyak orang ketahui. Namanya changsan, memiliki arti yang sama dengan cheongsam, yaitu baju panjang. Changsan adalah pakaian tradisional laki-laki Tiongkok yang biasanya digunakan untuk jamuan formal dan populer sebelum jas model Barat ditemukan.

Powered by Journey.


Few Clouds, 28°C

Jl. H. Samanhudi No.61

Hari ini bereksperimen di dapur lagi. Kali ini temanya Korean Food. Yup…dua hari lalu baru nemu resep Japchae dan Sigeumchi Namul, so mumpung bahan2nya ada mari kita praktekkan😊

Pertama, aku buat Sigeumchi Namul dulu yg gampang dan cepat😜. Apa itu Sigeumchi Namul? Adalah sayur bayam versi Korea. Bukan berupa sop, melainkan seperti capcay kering. Bumbunya juga simple, cuma kecap ikan/kecap asin + minyak wijen + olive oil + taburan wijen yg sudah disangrai sebagai finishing. Proses pembuatan kurleb 15 menit saja.

Kedua,lanjut buat japchae. Nah…ini dia yg lumayan ribet coz menurut resep contekan banyak tahapan2 memasaknya. Bahan2nya terdiri dari mie Korea atau bisa diganti soun (karena stok di rumah adanya bihun jagung,ya pake itu aja deh hehehe…), wortel, paprika, bawang bombay, jamur shitake, beef slices, bayam, dan wijen sangrai. Nah berhubung sama2 pakai bayam, jadilah hasil masakan Sigeumchi Namul tadi dipake utk Japchae ini, tokh bumbu yg dipakai sama juga kok. Proses pembuatan Japchae ini kurleb 100 menit dah. Fiuhhh…. lelah sangat, tapi hasilnya memuaskan kok😄 Yaaa…udh lumayan dpt deh rasa Koreanya walaupun baru percobaan pertama. Mau liat penampakkannya?Ada kok fotonya. Semoga bikin ngiler yaaaa….

Malemnya lanjut lat choir SOC. Walaupun badan pegel2 gegara kelamaan di dapur, tapi entah kenapa kalo mau lat choir bawaannya tetep excited hehehe… Trus ya pas latihan choir lagunya melengking2, sampe lapar lg aku wkwkwk… Padahal sblm pergi makan dulu loh japchae buatan sendiri seporsi. Latihan ini melaparkanku halah… Tapi hati happy coz bisa ketawa ketiwi sama temen2 choir, saling ngebully melepas stres. Itulah nikmatnya berkumpul yg sehobi.

Powered by Journey.

The Croods Movie

The Croods

Finally I’ve already watched this movie at XXI last weekend, and i’m satisfy with that movie.

The Story Synopsis:

In the era known as Croodacious, living beings (mortal) and the earth as we know it. Nature was still experimenting and the flora and fauna not found. One day, an earthquake shook the earth and a caveman named Grug (Nicolas Cage) and his family were forced to leave everything behind to make a new home

Everything went from bad to worse when Grug and his family met a hobo named Guy (Ryan Reynolds) and his daughter (Emma Stone) where the nomads are searching ‘future’ as opposed to custom Grug in the tradition of ‘the past’.

It’s a funny cartoon movie at all, but besides that, the movie has so many lessons of life which implied in the story line. Initially, The Croods family has a conservative life. But, because of nature urgency situation and conditions, they must out of the habit of living to survive. But, The Father (Grug) who has a narrow-mind still want to survive in their cave coz he still believe myths of their ancestors and very worried about changes in life. While The Eldest Daughter (Eep) has the 360 degrees opposite mindset from her Father (Grug).

Lessons of life that I got are: don’t ever be afraid to try something new for better life, don’t be afraid to change, and always have fresh ideas for a better life.

Previous Older Entries